Suku Aborigin Adalah Keturunan India ?
Sebuah hipotesa baru-baru ini dilontarkan para peneliti, bahwa suku asli Australia Aborigin berasal dari Asia, tepatnya India. Studi genetik ini ditulis dalam laporan Akademi Nasional Ilmu Pengetahuan, dan menyebutkan bahkan dingo - anjing liar Australia - juga dibawa oleh pendatang dari India. Alasannya karena catatan fosil memperkirakan anjing liar itu tiba di Australia dalam waktu yang hampir bersamaan.

Studi ini menunjukkan bahwa DNA dari suku asli Australia Aborigin mengungkapkan adanya perpindahan orang dari India sekitar 4000 tahun yang lalu. Peneliti juga memperkirakan imigran dari India kemungkinan membawa peralatan batu yang disebut microliths ke kediaman mereka yang baru.
Padahal sebelumnya banyak ahli yakin benua Australia terisolasi cukup lama, seperti dijelaskan Prof. Mark Stoneking, dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman berikut ini, "Untuk waktu yang lama, telah muncul dugaan mengenai kolonialisasi awal, Australia terisolasi seperti tak adanya bukti yang cukup atau kontak dengan dunia luar."
Dalam melakukan studi mengenai asal usul populasi Australia, tim membandingkan materi genetik dari suku asli Aborigin Australia dengan orang-orang dari Papua Nugini, Asia Tenggara dan India. Dengan mengamati lokasi yang spesifik, yang disebut pembuat genetik, dalam rangkaian DNA, para peneliti dapat melacak gen untuk mengetahui siapa yang paling dekat hubungannya. Mereka menemukan asosiasi genetik nenek moyang antara Papua Nugini dan Australia, yang diperkirakan sekitar 35.000 sampai 45.000 tahun lalu. Pada saat itu, Australia dan Papua Nugini merupakan pulau yang menyatu, disebut sahul, dan berkaitan dengan periode ketika manusia pertama tiba.
Tetapi para peneliti juga menemukan gen dengan jumlah yang cukup banyak antara India dan Australia. Prof Stoneking mengatakan :"Kami mendapatkan sinyal yang jelas dengan melihat sejumlah gen penilai dari seluruh genetika bahwa adanya kaitan antara India dan Australia antara periode 4.000 sampai 5.000 tahun yang lalu." Dia mengatakan bahwa data genetik tidak dapat menemukan rute India dapat mencapai benua itu, tetapi itu merupakan bukti bahwa Australia bukanlah tidak terhubung seperti asumsi sebelumnya.
"Hasil kami menunjukan bahwa adanya orang yang memberikan sebuah kontribusi genetis kepada orang Australia dari India," jelas Prof Stoneking..jpg)
sumber artikel
Padahal sebelumnya banyak ahli yakin benua Australia terisolasi cukup lama, seperti dijelaskan Prof. Mark Stoneking, dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman berikut ini, "Untuk waktu yang lama, telah muncul dugaan mengenai kolonialisasi awal, Australia terisolasi seperti tak adanya bukti yang cukup atau kontak dengan dunia luar."
Dalam melakukan studi mengenai asal usul populasi Australia, tim membandingkan materi genetik dari suku asli Aborigin Australia dengan orang-orang dari Papua Nugini, Asia Tenggara dan India. Dengan mengamati lokasi yang spesifik, yang disebut pembuat genetik, dalam rangkaian DNA, para peneliti dapat melacak gen untuk mengetahui siapa yang paling dekat hubungannya. Mereka menemukan asosiasi genetik nenek moyang antara Papua Nugini dan Australia, yang diperkirakan sekitar 35.000 sampai 45.000 tahun lalu. Pada saat itu, Australia dan Papua Nugini merupakan pulau yang menyatu, disebut sahul, dan berkaitan dengan periode ketika manusia pertama tiba.

Tetapi para peneliti juga menemukan gen dengan jumlah yang cukup banyak antara India dan Australia. Prof Stoneking mengatakan :"Kami mendapatkan sinyal yang jelas dengan melihat sejumlah gen penilai dari seluruh genetika bahwa adanya kaitan antara India dan Australia antara periode 4.000 sampai 5.000 tahun yang lalu." Dia mengatakan bahwa data genetik tidak dapat menemukan rute India dapat mencapai benua itu, tetapi itu merupakan bukti bahwa Australia bukanlah tidak terhubung seperti asumsi sebelumnya.
"Hasil kami menunjukan bahwa adanya orang yang memberikan sebuah kontribusi genetis kepada orang Australia dari India," jelas Prof Stoneking.
.jpg)
sumber artikel
Alat Makan Suku Kanibal di Fiji
Kisah soal suku-suku kanibalisme sebelum era modern memang bukan rekaan semata. Bahkan sebuah suku di Fiji punya alat makan khusus saat menyantap daging manusia. Alat makan istimewa tersebut baru-baru ini terjual seharga £ 30.000 di sebuah lelang. Harga yang cukup tinggi dikarenakan peninggalan dari abad ke-19. Selain antik, juga mempunyai cerita unik di belakangnya.
Suku di Fiji yang gemar makan daging manusia ini tidak sembarangan menggunakannya. Alat seperti garpu dengan empat jeruji tajam ini hanya boleh digunakan untuk kepala suku. Ketika perang antar suku masih kerap terjadi di masa itu, biasanya korban yang kalah menjadi santapan lezat.

Suku di Fiji yang gemar makan daging manusia ini tidak sembarangan menggunakannya. Alat seperti garpu dengan empat jeruji tajam ini hanya boleh digunakan untuk kepala suku. Ketika perang antar suku masih kerap terjadi di masa itu, biasanya korban yang kalah menjadi santapan lezat.
Tubuh-tubuh inilah yang akan disantap bersama-sama seluruh suku. Namun pembagian daging untuk kepala suku harus menggunakan garpu ini. Panjangnya beragam antara 6 hingga 17 inci.
Garpu-garpu tersebut dipandang sebagai benda suci dan disimpan di dalam sebuah gubuk berasap. Karena garpu itulah yang mewakili kekuatan seorang kepala suku.
sumber artikel
Pancasila Terinspirasi dari Pohon Sukun
Ternyata 5 butir Sila Pancasila terilhami dari pohon Sukun di Ende, Flores. Benarkah?
Dari tahun 1934-1938, Ir. Soekarno diasingkan oleh Belanda ke Ende, Floers. Saat di pengasingan tersebut, tokoh proklamator ini sering bermain bola bersama masyarakat. Saat lelah ia bernaung di bawah pohon sukun berbatang lima. Ia merenung sambil memikirkan bagaimana menyatukan Nusantara dalam satu dasar negara. Saat mengamati batang pohon sukun, tiba-tiba ia mendapat inspirasi dan lahirlah Pancasila.
“Di Pulau Flores yang sepi, di mana aku tidak memiliki kawan, aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di bawah sebatang pohon di halaman rumahku, merenungkan ilham yang diturunkan oleh Tuhan, yang kemudian dikenal sebagai Pancasila,” cetus Bung Karno.
Dari tahun 1934-1938, Ir. Soekarno diasingkan oleh Belanda ke Ende, Floers. Saat di pengasingan tersebut, tokoh proklamator ini sering bermain bola bersama masyarakat. Saat lelah ia bernaung di bawah pohon sukun berbatang lima. Ia merenung sambil memikirkan bagaimana menyatukan Nusantara dalam satu dasar negara. Saat mengamati batang pohon sukun, tiba-tiba ia mendapat inspirasi dan lahirlah Pancasila.

“Di Pulau Flores yang sepi, di mana aku tidak memiliki kawan, aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di bawah sebatang pohon di halaman rumahku, merenungkan ilham yang diturunkan oleh Tuhan, yang kemudian dikenal sebagai Pancasila,” cetus Bung Karno.
Lima mutiara berharga itu adalah: Kebangsaan, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Demokrasi, Keadilan Sosial dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Rumusan inilah yang kemudian menjadi Pancasila sekarang.
“Jika kuperas yang lima ini menjadi satu, maka dapatlah aku satu perkataan Indonesia tulen, yaitu perkataan gotong-royong,” kata Bung Karno.
Bung Karno mengatakan, apa yang dia kerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi dan tradisi-tradisi nusantara sendiri. “Dan aku menemukan lima butir mutiara yang indah,” ujarnya. Guna mengenang keberadaan Soekarno di Ende dan pengingat lahirnya Pancasila, saat ini patung Bung Karno berdiri tegak untuk memberikan semangat nasionalisme, kata “Esa” yang artinya Satu merupakan bahasa Ende yang kini melekat dalam sila 1 Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa“.

sumber artikel
Darah Yahudi di tangan Zionis
Banyak orang boleh saja bersimpati terhadap korban Holocaust, pembantaian oleh tentara Nazi Jerman terhadap warga Yahudi selama Perang Dunia kedua. Konon korbannya mencapai enam juta. Namun hanya sedikit orang tahu Zionis mendalangi pembantaian itu.

Saat itu Presiden Amerika Serikat Franklin Delano Roosevelt pada 6-15 Juli 1938 menggelar konferensi the Evian untuk membahas persoalan pengungsi Yahudi. Delegasi dari the Jewish Agency diketuai oleh Golda Meir (kemudian menjadi perdana menteri Israel pada 1970-an) menolak solusi dari Jerman. Negara itu menawarkan US$ 250 per kepala buat orang Yahudi di Jerman dan Austri agar pindah ke negara lain. Amerika bersama 32 negara lain yang hadir dalam pertemuan itu akhirnya menolak pula gagasan Jerman ini.
Di lain waktu, 1 Februari 1940, Wakil Presiden the United Jewish Appeal Henry Montor tidak bersedia turun tangan menangani kapal bermuatan pengungsi Yahudi di Sungai Danube, Jerman. "Palestina tidak bisa dibanjiri oleh orang-orang tua atau yang tidak ingin pindah ke sana," katanya memberi alasan, seperti dilansir truetorahjews.org.
Setahun kemudian dan pada 1942, Gestapo Jerman berniat menyelamatkan jutaan orang Yahudi. Mereka menawarkan seluruh Yahudi di Eropa untuk transit di Spanyol jika mereka mau meninggalkan semua kekayaan mereka di Jerman dan Prancis. Syaratnya: tidak ada yang pergi ke Palestina, semua pengungsi Yahudi akan dikirim ke Amerika dan daerah jajahan Inggris dengan visa diurus oleh orang Yahudi tinggal di sana, dan the Jewish Agency bakal memberikan USD 1 ribu per keluarga setelah mereka tiba di Spanyol.
Para pemimpin Zionis di Swiss dan Turki menyetujui usulan ini karena mereka paham Palestina tidak bisa dijadikan tujuan pengungsi sebab sudah ada perjanjian antara Jerman dan mufti di Palestina. Namun pentolan Zionis lainnya menentang gagasan itu. Alasan mereka: Palestina harus menjadi satu-satunya tujuan buat pengungsi Yahudi, orang-orang Yahudi itu lebih baik menderita dan terbunuh agar negara menang perang menyepakati berdirinya negara Israel di wilayah Palestina, dan mereka menolak memberikan kompensasi buat para pengungsi Yahudi itu.
Tawaran serupa dari Hungaria pada 1944 juga dtolak. Para pemimpin Zionis juga berhasil menggagalkan penyelamatan 300 rabbi bersama keluarga mereka ke Mauritius lewat Turki.
Pada 16 Februari 1943, Rumania berencana mengevakuasi 70 ribu pengungsi Yahudi. Prposal ini dilansir banyak surat kabar di New York, Amerika Serikat. Yitzhak Greenbaum, Ketua the Rescue Committee of the Jewish Agency dua hari kemudian berbicara di hadapan anggota Dewan Eksekutif Zionis di Tel Aviv. "Ketika mereka menanyakan saya apakah Anda bisa membiayai penyelamatan Yahudi di Eropa, saya bilang tidak, saya bilang sekali lagi tidak...harus ada yang menolak rencana ini karena membuat kegiatan Zionis bukan prioritas utama."
Sepekan berselang, Presiden Kongres Yahudi Amerika (AJC) Stephen Wise menyatakan penolakan terbuka soal rencana itu. Dia juga mengumumkan pihaknya tidak bisa memberikan bantuan dana buat memuluskan penyelamatan itu. Dia juga menolak usulan membentuk dewan penyelamat pengungsi Yahudi oleh Amerika yang disampaikan Komite Darurat buat Menyelamaatkan Orang Yahudi (ECSJP) pada 1944.
Selama perundingan untuk mendirikan Dewan Pengungsi Perang itu, Chaim Weizman menegaskan bagian penting dari bangsa Yahudi sudah tinggal di Palestina, sedangkan orang-orang Yahudi di luar Palestina tidak terlalu penting. "Satu sapi di Palestina lebih berharga ketimbang seluruh orang Yahudi di Eropa," ujarnya.
Anggota Kongres Amerika William Stration pada 1947 mensponsori rancangan beleid buat memberikan visa Amerika bagi 400 ribu pengungsi Yahudi. Tapi rancangan undang-undang ini gagal disahkan setelah sejumlah pemimpin Zionis di negara itu menolak.
Kejadian serupa berlangsung di Kanada pada 23 Februari 1956. Majelis Parlemen Kanada menanyakan kepada Menteri Imigrasi J.W. Pickersgill, apakah bersedia menampung pengungsi Yahudi. "Pemerintah tidak bisa melanjutkan ke arah itu karena pemerintah Israel tidak ingin kita melakukan itu," jawabnya.
Kepemimpinan Zionis pada 1972 juga berhasil menggagalkan upaya Kongres Amerika mengizinkan masuk 20-30 ribu pengungsi Yahudi dari Rusia. Dua organisasi bantuan Yahudi di negara itu, Joint dan HIAS, dipaksa untuk menurunkan para pengungsi Yahudi itu di Wina (Austria), Roma (Italia), dan kota-kota Eropa lainnya.
Semua kenyataan itu kian membuktikan Zionis mendalangi Holocaust.
Di lain waktu, 1 Februari 1940, Wakil Presiden the United Jewish Appeal Henry Montor tidak bersedia turun tangan menangani kapal bermuatan pengungsi Yahudi di Sungai Danube, Jerman. "Palestina tidak bisa dibanjiri oleh orang-orang tua atau yang tidak ingin pindah ke sana," katanya memberi alasan, seperti dilansir truetorahjews.org.
Setahun kemudian dan pada 1942, Gestapo Jerman berniat menyelamatkan jutaan orang Yahudi. Mereka menawarkan seluruh Yahudi di Eropa untuk transit di Spanyol jika mereka mau meninggalkan semua kekayaan mereka di Jerman dan Prancis. Syaratnya: tidak ada yang pergi ke Palestina, semua pengungsi Yahudi akan dikirim ke Amerika dan daerah jajahan Inggris dengan visa diurus oleh orang Yahudi tinggal di sana, dan the Jewish Agency bakal memberikan USD 1 ribu per keluarga setelah mereka tiba di Spanyol.

Para pemimpin Zionis di Swiss dan Turki menyetujui usulan ini karena mereka paham Palestina tidak bisa dijadikan tujuan pengungsi sebab sudah ada perjanjian antara Jerman dan mufti di Palestina. Namun pentolan Zionis lainnya menentang gagasan itu. Alasan mereka: Palestina harus menjadi satu-satunya tujuan buat pengungsi Yahudi, orang-orang Yahudi itu lebih baik menderita dan terbunuh agar negara menang perang menyepakati berdirinya negara Israel di wilayah Palestina, dan mereka menolak memberikan kompensasi buat para pengungsi Yahudi itu.
Tawaran serupa dari Hungaria pada 1944 juga dtolak. Para pemimpin Zionis juga berhasil menggagalkan penyelamatan 300 rabbi bersama keluarga mereka ke Mauritius lewat Turki.
Pada 16 Februari 1943, Rumania berencana mengevakuasi 70 ribu pengungsi Yahudi. Prposal ini dilansir banyak surat kabar di New York, Amerika Serikat. Yitzhak Greenbaum, Ketua the Rescue Committee of the Jewish Agency dua hari kemudian berbicara di hadapan anggota Dewan Eksekutif Zionis di Tel Aviv. "Ketika mereka menanyakan saya apakah Anda bisa membiayai penyelamatan Yahudi di Eropa, saya bilang tidak, saya bilang sekali lagi tidak...harus ada yang menolak rencana ini karena membuat kegiatan Zionis bukan prioritas utama."
Sepekan berselang, Presiden Kongres Yahudi Amerika (AJC) Stephen Wise menyatakan penolakan terbuka soal rencana itu. Dia juga mengumumkan pihaknya tidak bisa memberikan bantuan dana buat memuluskan penyelamatan itu. Dia juga menolak usulan membentuk dewan penyelamat pengungsi Yahudi oleh Amerika yang disampaikan Komite Darurat buat Menyelamaatkan Orang Yahudi (ECSJP) pada 1944.
Selama perundingan untuk mendirikan Dewan Pengungsi Perang itu, Chaim Weizman menegaskan bagian penting dari bangsa Yahudi sudah tinggal di Palestina, sedangkan orang-orang Yahudi di luar Palestina tidak terlalu penting. "Satu sapi di Palestina lebih berharga ketimbang seluruh orang Yahudi di Eropa," ujarnya.
Anggota Kongres Amerika William Stration pada 1947 mensponsori rancangan beleid buat memberikan visa Amerika bagi 400 ribu pengungsi Yahudi. Tapi rancangan undang-undang ini gagal disahkan setelah sejumlah pemimpin Zionis di negara itu menolak.
Kejadian serupa berlangsung di Kanada pada 23 Februari 1956. Majelis Parlemen Kanada menanyakan kepada Menteri Imigrasi J.W. Pickersgill, apakah bersedia menampung pengungsi Yahudi. "Pemerintah tidak bisa melanjutkan ke arah itu karena pemerintah Israel tidak ingin kita melakukan itu," jawabnya.

Kepemimpinan Zionis pada 1972 juga berhasil menggagalkan upaya Kongres Amerika mengizinkan masuk 20-30 ribu pengungsi Yahudi dari Rusia. Dua organisasi bantuan Yahudi di negara itu, Joint dan HIAS, dipaksa untuk menurunkan para pengungsi Yahudi itu di Wina (Austria), Roma (Italia), dan kota-kota Eropa lainnya.
Semua kenyataan itu kian membuktikan Zionis mendalangi Holocaust.
Zionisme dan Anti-Semitisme
Theodor Herzl (1860-1904) mengakui anti-Semitisme akan mempermulus tujuan mendirikan negara bagi bangsa Yahudi. Dia menegaskan bagaimana pun caranya, anti-Semit harus menjadi isu politik internasional.
"Anti-Semit akan menjadi teman terpercaya kita, negara-negara (mendukung) anti-Semit adalah sekutu kita," tulis Herzl dalam bukunya Der Judenstaat (Negara Israel) halaman 19, seperti dilansir truetorahjews.org. Buku ini diluncurkan pada 14 Februari 1896 di Leipzig, Jerman, dan Austria.
Herzl adalah wartawan Yahudi keturunan Austria-Hungaria. Dia dilahirkan pada 2 Mei 1860 di Past, Hungaria. Nama aslinya Benjamin Ze'ev Herzl.
Sejumlah hasil penelitian menyebutkan imigrasi warga Yahudi ke Israel makin meningkat di saat anti-Semit juga naik. Para pemimpin Zionis mengkampanyekan isu itu untuk mendorong kaum Yahudi keluar dari negara tempat tinggal mereka lantaran merasa sudah tidak aman. Anti-Semit diperlukan untuk menjaga mayoritas Yahudi di Israel.
Inilah yang terjadi saat rezim Adolf Hitler berkuasa di Jerman. Kongres Yahudi Amerika pada Maret 1933 menyerukan unjuk rasa besar-besaran di Madison Square Garden, New York, untuk memboikot semua produk asal Jerman. Alhasil, 40 ribu orang berdemonstrasi anti-Hitler. Seruan serupa juga disampaikan kepada seluruh kaum Yahudi sejagat untuk memboikot produk Jerman dan menolak semua kepentingan ekonomi negara itu.
Hasilnya, Hitler marah besar. Lantaran demo tidak berhenti, pada 28 Maret 1933, Hitler memerintahkan memboikot semua toko dan perusahaan milik kaum Yahudi di Jerman. Kampanye ini berhasil, warga Yahudi di negara itu merasa tidak nyaman dan ingin keluar.
Karena itulah, masih di tahun yang sama, pimpinan Zionis di Jerman meneken Perjanjian Perpindahan dengan pemerintahan Hitler. Berdasarkan kesepakatan itu, warga Yahudi dipaksa pindah ke wilayah Palestina, tempat akan menjadi berdirinya negara Israel. Sebelum anti-Semit meningkat di Jerman, amat sedikit kaum Yahudi bersimpati atas gerakan Zionis.
Dengan perjanjian itu pula, Hitler mendirikan 40 kamp pelatihan bagi warga Yahudi sebagai persiapan tinggal di Palestina. Hingga akhir 1942, sedikitnya ada satu kamp Kibbutz telah mengibarkan calon bendera Israel.
Untuk memastikan kaum Yahudi itu tidak lari ke negara lain, kaum Zionis tidak segan bertindak kejam. Atas dasar pengaruh mereka pula, lima kapal berisi pengungsi Yahudi asal Jerman ditolak masuk ke Amerika Serikat. Mereka akhirnya dikirim kembali ke Jerman dan akhirnya dibunuh tentara Nazi di dalam kamp gas beracun.
Prinsip keji ini dianut pula oleh David Ben Gurion, perdana menteri pertama Israel. "Jika saya tahu bisa menyelamatkan semua anak (Yahudi) di Jerman dengan membawa mereka ke Inggris dan hanya setengah dari mereka dapat diungsikan ke Eretz Israel. Saya akan mengambil pilihan kedua. Ini bukan sekadar persoalan menyelamatkan nyawa anak-anak Yahudi, namun bagaimana memelihara sejarah rakyat Israel," ujar Ben Gurion pada 7 Desember 1938.
"Anti-Semit akan menjadi teman terpercaya kita, negara-negara (mendukung) anti-Semit adalah sekutu kita," tulis Herzl dalam bukunya Der Judenstaat (Negara Israel) halaman 19, seperti dilansir truetorahjews.org. Buku ini diluncurkan pada 14 Februari 1896 di Leipzig, Jerman, dan Austria.

Herzl adalah wartawan Yahudi keturunan Austria-Hungaria. Dia dilahirkan pada 2 Mei 1860 di Past, Hungaria. Nama aslinya Benjamin Ze'ev Herzl.
Sejumlah hasil penelitian menyebutkan imigrasi warga Yahudi ke Israel makin meningkat di saat anti-Semit juga naik. Para pemimpin Zionis mengkampanyekan isu itu untuk mendorong kaum Yahudi keluar dari negara tempat tinggal mereka lantaran merasa sudah tidak aman. Anti-Semit diperlukan untuk menjaga mayoritas Yahudi di Israel.
Inilah yang terjadi saat rezim Adolf Hitler berkuasa di Jerman. Kongres Yahudi Amerika pada Maret 1933 menyerukan unjuk rasa besar-besaran di Madison Square Garden, New York, untuk memboikot semua produk asal Jerman. Alhasil, 40 ribu orang berdemonstrasi anti-Hitler. Seruan serupa juga disampaikan kepada seluruh kaum Yahudi sejagat untuk memboikot produk Jerman dan menolak semua kepentingan ekonomi negara itu.
Hasilnya, Hitler marah besar. Lantaran demo tidak berhenti, pada 28 Maret 1933, Hitler memerintahkan memboikot semua toko dan perusahaan milik kaum Yahudi di Jerman. Kampanye ini berhasil, warga Yahudi di negara itu merasa tidak nyaman dan ingin keluar.
Karena itulah, masih di tahun yang sama, pimpinan Zionis di Jerman meneken Perjanjian Perpindahan dengan pemerintahan Hitler. Berdasarkan kesepakatan itu, warga Yahudi dipaksa pindah ke wilayah Palestina, tempat akan menjadi berdirinya negara Israel. Sebelum anti-Semit meningkat di Jerman, amat sedikit kaum Yahudi bersimpati atas gerakan Zionis.
Dengan perjanjian itu pula, Hitler mendirikan 40 kamp pelatihan bagi warga Yahudi sebagai persiapan tinggal di Palestina. Hingga akhir 1942, sedikitnya ada satu kamp Kibbutz telah mengibarkan calon bendera Israel.
Untuk memastikan kaum Yahudi itu tidak lari ke negara lain, kaum Zionis tidak segan bertindak kejam. Atas dasar pengaruh mereka pula, lima kapal berisi pengungsi Yahudi asal Jerman ditolak masuk ke Amerika Serikat. Mereka akhirnya dikirim kembali ke Jerman dan akhirnya dibunuh tentara Nazi di dalam kamp gas beracun.

Prinsip keji ini dianut pula oleh David Ben Gurion, perdana menteri pertama Israel. "Jika saya tahu bisa menyelamatkan semua anak (Yahudi) di Jerman dengan membawa mereka ke Inggris dan hanya setengah dari mereka dapat diungsikan ke Eretz Israel. Saya akan mengambil pilihan kedua. Ini bukan sekadar persoalan menyelamatkan nyawa anak-anak Yahudi, namun bagaimana memelihara sejarah rakyat Israel," ujar Ben Gurion pada 7 Desember 1938.






