Makanan Jalanan Tiga Negara
Artikel ini saya tujukan buat seorang sahabat yang suka banget incip-incip makanan. Kebetulan kawan ini baru berulang tahun . Ketika saya sedang jalan, banyak SMS-nya yang berisi pertanyaan semisal ‘sudah makan belum, makan apa, dll. Mungkin dia tidak tahu kalau saya amat sangat rakus selama berjalan.
Selama jalan, setiap hari saya habiskan dengan berjalan kaki antara 15-20 km. Kalau tidak sedang berjalan kaki, ya duduk di atas kereta api antara 6-24 jam. Risiko berjalan murah meriah, perut pun jadi cepat lapar.
Dalam perjalanan, saya usahakan memilih makanan kaki lima dengan menu vegetarian. Kalau terpaksa mendaging, saya pilih ikan. Saya merasa lebih sehat paska vegetarian. Stamina meningkat dan nyaris tak pernah sakit. Dua bulan berjalan, satu-satunya sakit parah hanya telapak kaki yang berair karena memakai sandal gunung baru di awal jalan.
Selama di Penang, saya selalu menyantap laksa. Laksa paling sedap ala saya berada du depan kuil Kek Lok Si. Harganya 4 ringgit, ditemani es tebu yang 2 ringgit, rasanya nyam nyam.
Selama jalan, setiap hari saya habiskan dengan berjalan kaki antara 15-20 km. Kalau tidak sedang berjalan kaki, ya duduk di atas kereta api antara 6-24 jam. Risiko berjalan murah meriah, perut pun jadi cepat lapar.
Dalam perjalanan, saya usahakan memilih makanan kaki lima dengan menu vegetarian. Kalau terpaksa mendaging, saya pilih ikan. Saya merasa lebih sehat paska vegetarian. Stamina meningkat dan nyaris tak pernah sakit. Dua bulan berjalan, satu-satunya sakit parah hanya telapak kaki yang berair karena memakai sandal gunung baru di awal jalan.
Selama di Penang, saya selalu menyantap laksa. Laksa paling sedap ala saya berada du depan kuil Kek Lok Si. Harganya 4 ringgit, ditemani es tebu yang 2 ringgit, rasanya nyam nyam.
Di Nibong Tebal, kawan saya Reddie banyak memperkenalkan makanan ala India. Selain roti canai yang hanya 0,80 ringgit, ada roti telur seharga 1,20 ringgit dan nan 2,0 ringgit. Sekali-sekali coba makan nan keju. Rasanya wow. Bumbu nan yang ahoy adalah tumbukan daun mint warna hijau. Nyegrak. Minumannya jelas tea ais alias teh tarik pakai es yang harganya 1,5 ringgit saja.
Sekali Reddie mengajak saya mengunjungi Fire Walking Ceremony, festival yang hanya diadakan sekali setahun di tiga kuil dekat Nibong Tebal. Kami pun dapat makan gratis dengan menu yang juga ‘vegetarian’. Nasi dihidangkan di atas daun pisang. Lauknya ada sayur labu, ubi jalar, sayur kacang. Minumannya es sirop atau bubur kacang hijau. Rasanya.. hmmm, manis!
*****
Di Songkhla, wilayah bagian Thailand Selatan yang dulu kental Islamnya sebelum disulap menjadi kota Buddha, saya hanya bisa menemukan mie rebus masam yang sedap. Harga per-mangkoknya antara 20-25 bath. Tapi kopi Songkhla patut dicoba. Biar hanya secangkir kecil, rasanya maknyus. Harga per-cangkir sekitar 20 bath. Kalau mau kopi murah, masuk saja 7-11, segelas plastik besar 15 bath plus gratis es.
Di Stasiun Hualamphong, Bangkok, kali pertama saya berkenalan dengan ‘asinan’ Thailand. Lupa saya tanyakan nama aslinya. Yang jelas, berbumbu masam dan puedas, diikuti irisan kubis, ketimun, dan kacang mentah. Oya, ada semacam seafood di situ. Satu mangkok harganya 35 bath. Begitu masamnya, hingga hanya kubis, mentimun, dan kacang saja yang bisa saya telan. Kapok! Toh saya sudah mencicipi makanan lokal.
Di Songkhla, wilayah bagian Thailand Selatan yang dulu kental Islamnya sebelum disulap menjadi kota Buddha, saya hanya bisa menemukan mie rebus masam yang sedap. Harga per-mangkoknya antara 20-25 bath. Tapi kopi Songkhla patut dicoba. Biar hanya secangkir kecil, rasanya maknyus. Harga per-cangkir sekitar 20 bath. Kalau mau kopi murah, masuk saja 7-11, segelas plastik besar 15 bath plus gratis es.
Di Stasiun Hualamphong, Bangkok, kali pertama saya berkenalan dengan ‘asinan’ Thailand. Lupa saya tanyakan nama aslinya. Yang jelas, berbumbu masam dan puedas, diikuti irisan kubis, ketimun, dan kacang mentah. Oya, ada semacam seafood di situ. Satu mangkok harganya 35 bath. Begitu masamnya, hingga hanya kubis, mentimun, dan kacang saja yang bisa saya telan. Kapok! Toh saya sudah mencicipi makanan lokal.
Sampai di Ayutthaya, saya mirip kena sihir. Kota lamanya penuh reruntuhan candi. Sejauh mata memandang hanya candi-candi tua yang gemerlap keemasan saat ditimpa cahaya. Berlomba saya dengan para monk (bhiksu) menjemput matahari di pagi hari. Saya menuju reruntuhan candi, bhiksu-bhiksu menuju pasar, mengumpulkan sedekah. Sekali saya ikuti bhiksu ke pasar. Ternyata jajanan ala pasar, wow.. banyak yang vegie. Makanan termahal adalah nasi goreng seafood, 50 bath harganya. Melimpah benar porsinya, bisa buat dua kali makan. Tapi di Ayutthaya susah dapat nasi, adanya ketan. Di siang hari, es sirop merah seharga 10 bath jadi penawar dahaga dan terik udara.
Beruntung saya tinggal dalam sebuah keluarga di Desa Pang Term, utara Chiang Mai. Setiap hari saya disuguhi menu rumahan. Nasi ketan, sayur dan aneka hidangan yang kental aroma khalenka. Khalenka itu semacam empon2, bentuknya putih, baunya antara lengkuas, jahe, dan entahlah. Abon ikan tuna yang saya bawa pun disulap Pinan Tea, ibu keluarga, menjadi makanan sedap beraroma khalenka.
Pinan Tea sempat membuat penganan mirip bakwan. Bahannya ketela oranye yang diiris tipis-tipis. Bakwan berasa manis. Tapi jangan coba-coba mengambil asinan (atau acar?) buatan dia. Rasanya nano-nano, nggak karuan. Ada masam, pedas, dan entahlah. Shock saya mencobanya, hehe…
Dari Chiang Mai saya menuju Arayaprathet, perbatasan sebelum ke Kamboja. Di sini kental masakan Vietnam di beberapa rumah makan. Saya coba lumpia sayur yang vegetarian dengan bumbu kacang manis pedas. Saya suka, kecuali harganya. Lima lumpia berharga 50 bath. Saus kacangnya terlalu sedikit pula. Padahal, yang bikin marem itu saus kacangnya. Huh..!
*****
Surga bagi pelancong kere macam saya ternyata ada di Siem Reap. Murah harga penginapan (nemu yang 4 dolar sudah termasuk sarapan, dan bukan dormitory), murah pula jajanan pasarnya. Pernah diduduki Prancis membuat orang Siem Reap piawai membuat baguette. Rotinya enak, empuk pula, dan krenyes kalau digigit. Baguette isi sayur dan mayonese hanya 1500 riel sepotong (sebagai gambaran, 1 dolar US saetara dengan 4400 riel). Kawan saya yang bekerja di lembaga bahasa Prancis pun jadi keranjingan baguette.
Surga bagi pelancong kere macam saya ternyata ada di Siem Reap. Murah harga penginapan (nemu yang 4 dolar sudah termasuk sarapan, dan bukan dormitory), murah pula jajanan pasarnya. Pernah diduduki Prancis membuat orang Siem Reap piawai membuat baguette. Rotinya enak, empuk pula, dan krenyes kalau digigit. Baguette isi sayur dan mayonese hanya 1500 riel sepotong (sebagai gambaran, 1 dolar US saetara dengan 4400 riel). Kawan saya yang bekerja di lembaga bahasa Prancis pun jadi keranjingan baguette.
Ada lagi semacam juadah tapi isi sayuran. Dari ketan kulitnya, dimakan dengan saus kacang manis pedas. Harganya juga 1500 riel sepotong. Mulanya kawan saya agak ‘jijik’. Tapi begitu tahu rasanya, jadi keranjingan. Saya sih makan apa saja. Termasuk membeli telur rebus malam-malam, karena kasihan pedagangnya yang berjalan di rintik hujan. Mulanya heran juga, kok bumbunya banyak sangat. Ada lada, semacam daun kemangi, dan lainnya. Ternyata itu orok bebek. Enak juga sih, meski serasa jadi kanibal. Hihi…
Makanan termahal di Siem Reap justru di restoran dalam kompleks Angkor Wat. Sepiring nasi goreng yang porsinya besar (bisa dimakan dua orang), harganya hampir 5 dolar. Sekali-sekali bolehlah, apalagi di saat perut melilit. Selain nasi goreng, sayur campur aduknya enak juga. Entah apa yang jadi bahannya, tapi rasanya.. amboi!
Central Market di Pnom Penh pun menyediakan makanan murah meriah. Mulai mie goreng vegie, rebusan seafood yang luar biasa pedasnya (saya incipi kuahnya saja, kata tabib saya, sementara hindari seafood), dan jajanan mirip nagasari yang di atasnya disiram saus ala santan. Mengenyangkan. Seporsi 3000 riel. Tapi baguette jalanan Pnom Penh tak sesedap baguette di Siem Reap.
*****
Di Yala yang terik dan dipenuhi serdadu Thailand itu, saya menemukan bakso ikan. Kota yang kerap dilanda bom ini ternyata kaya akan makanan enak. Rumah makan Cina dan muslim berkelompok sepanjang lorong kota. Bakso ikan ini dicampur taoge, tofu, dan mie kuning. Seporsinya 35 bath. Sayang saya tak mencicipi dadar telur isi nasi goreng. Perut terlanjur penuh.
Di Yala yang terik dan dipenuhi serdadu Thailand itu, saya menemukan bakso ikan. Kota yang kerap dilanda bom ini ternyata kaya akan makanan enak. Rumah makan Cina dan muslim berkelompok sepanjang lorong kota. Bakso ikan ini dicampur taoge, tofu, dan mie kuning. Seporsinya 35 bath. Sayang saya tak mencicipi dadar telur isi nasi goreng. Perut terlanjur penuh.
*****
Masuk kembali ke Malaysia via Sungai Kolok-Rantau Panjang, mata saya langsung nanar memandang krupuk lekor. Kata kawan, apa bedanya lekor dengan amplang atau krupuk ikan buatan Indonesia. Saya jawab, lekor khas. Ya bentuknya, ya harganya yang merakyat. Dijual ala pisang goreng, pula. Lima ekor lekor seharga seringgit plus saus ala empek-empek itu. Mana ada yang begini di Indonesia? Hehe.. (kecuali mungkin krupuk upil plus sambel petis).
Di Port Dickson, kota pelabuhan yang masuk wilayah Negeri Sembilan, saya jumpai penjual rojak pinggir jalan. Yang dimaksud rojak di sini mirip gado-gado kuahnya. Hanya, isinya mentimun yang dirajang panjang-panjang, telur ayam rebus, tahu macam batagor, dan mie. Satu porsi harganya antara 3-3,5 ringgit. Gandengan minumnya, es cendol seharga 2 ringgit semangkok.
Masuk kembali ke Malaysia via Sungai Kolok-Rantau Panjang, mata saya langsung nanar memandang krupuk lekor. Kata kawan, apa bedanya lekor dengan amplang atau krupuk ikan buatan Indonesia. Saya jawab, lekor khas. Ya bentuknya, ya harganya yang merakyat. Dijual ala pisang goreng, pula. Lima ekor lekor seharga seringgit plus saus ala empek-empek itu. Mana ada yang begini di Indonesia? Hehe.. (kecuali mungkin krupuk upil plus sambel petis).
Di Port Dickson, kota pelabuhan yang masuk wilayah Negeri Sembilan, saya jumpai penjual rojak pinggir jalan. Yang dimaksud rojak di sini mirip gado-gado kuahnya. Hanya, isinya mentimun yang dirajang panjang-panjang, telur ayam rebus, tahu macam batagor, dan mie. Satu porsi harganya antara 3-3,5 ringgit. Gandengan minumnya, es cendol seharga 2 ringgit semangkok.
Ada lagi es campur berujung es krim yang sedap rasanya. Bisa ditemui di manapun, termasuk Melaka, Penang, atau Kuala Lumpur. Lupa namanya. Harga semangkok 3 ringgit.
Wah, masih banyak lagi yang ingin saya ceritakan pasal makanan jalanan (maksud saya makanan yang saya temukan sepanjang perjalanan). Sayangnya, waktu tak banyak. Apakah makan makanan jalanan bikin mencret? Tergantung orangnya. Buat saya yang biasa hidup di pedalaman, tak ada efek sampingannya, kecuali kenyang dan mengantuk. Biasalah, masih mengandung darah Jawa (jalinan wong angin-anginan). Apapun itu, semoga kenyang membaca tulisan ‘nggladrah’ ini.
Makanan Jalanan Tiga Negara
Ruang Suci Bagi Kaum Waria
Demikianlah, menggali hal-hal terbaik di dalam diri,
yang cepat atau lambat akan menjadi jalan pulang bagi hidupnya.
Dan saya hanya meminjamkan telinga dan hati, bukan Kitab Suci.
AKTIVITAS atau kehidupan keagamaan kaum waria adalah fenomena yang masih baru bagi sebagian besar dari kita. Dapat dimengerti bila aktivitas keagamaannya, terlebih lagi makna aktivitas itu bagi mereka belum banyak dipahami. Persepsi buruk terhadap waria, tampaknya menjadikan kehidupan keagamaan yang dipandang penting sepanjang sejarah umat manusia itu luput dari perhatian. Berpikir tentang adanya kemungkinan bahwa waria juga membutuhkan dan menjalankan agamanya, agaknya jarang terlintas dalam alam pikiran kebanyakan orang.
Tertarik dengan adanya komunitas dan aktivitas keagamaan kaum waria, pertengahan 2009 saya melakukan penelitian kualitatif-fenomenologis. Bolak balik Jogja-Surabaya, dan selama hampir 3 bulan saya berbincang intensif dengan mereka, yang sungguh memberi pelajaran, bukan saja bagaimana menjadi peneliti tapi sekaligus juga manusia. Dan sebagai hasil penelitian, tulisan ini tidak hanya sekedar mengungkap sisi lain dari kehidupan waria, tapi yang lebih dalam dari itu: memahami apa dan bagaimana makna agama dalam perspektif hidup mereka.
Pengajian Waria
Di Indonesia, setidaknya ada dua komunitas keagamaan waria yang sudah mapan, yaitu Pengajian Waria Al-Ikhlas Surabaya, tempat dimana saya melakukan penelitian dan Pondok Pesantren (Ponpes) Waria Yogyakarta. Pengajian Waria Al-Ikhlas Surabaya yang dibentuk pada tahun 2004, selain secara rutin mengadakan pengajian juga membentuk group musik Islami, yang mereka namai Hadrah Al-Banjari Waria Al-Ikhlas. Berbeda dengan komunitas lain yang kebanyakan masih berpakaian wanita saat beribadah, waria pada pengajian Al-Ikhlas sudah bepakaian layaknya laki-laki. Beberapa anggotanya bahkan telah menunaikan ibadah haji. Adapun Pondok Pesantren (Ponpes) Waria Yogyakarta, dibentuk tahun 2008, diikuti tidak hanya waria tapi juga lesbian dan gay. Di tempat ini, mereka mengikuti pengajian, dzikir, shalat berjamaah, belajar membaca Al-Qur’an dan juga shalat.
Dimensi Batin-Spiritualitas
Aktivitas keagamaan para waria itu tidak hanya bermakna sebagai sesuatu yang positif, tapi yang lebih mendalam dari itu adalah bahwa para waria telah memasuki dimensi batin atau spiritualitas manusia, yakni agama. Kenyataan itu tampak berseberangan dengan persepsi buruk di masyarakat bahwa waria adalah individu abnormal, tidak dapat dibenarkan, dosa, identik dengan pelacuran, seks bebas, penyimpangan seks, penyakit kotor dan menyalahi kodrat. Menarik, bahwa di tengah kerumitan-kerumitan itu, sejumlah waria tetap berusaha belajar dan menjalankan ajaran agamanya.
Aktivitas keagamaan waria, baik dalam suatu komunitas atau dalam bentuk peribadatan yang bersifat personal-pribadi, bagaimanapun juga tidak cukup dipahami secara sederhana bahwa sudah sewajarnya bila individu yang menganut suatu agama menjalankan agamannya. Beragama atau menjalankan ajaran agama itu sendiri tentu bukan merupakan persoalan, tetapi harus segera dipahami bahwa waria memiliki persepsi fisik dan psikologis yang unik dan khas, yang membedakannya dengan individu pada umumnya, terlebih bahwa hal itu berbenturan dengan nilai-nilai yang berlaku umum di masyarakat.
Terjebak dalam Tubuh Pria
Literatur menjelaskan bahwa waria termasuk dalam gender identity disorder atau suatu keadaan ketika seseorang merasa peran jenis dan jenis kelaminnya tidak sesuai dengan perasaannya, baik secara fisik maupun mental (Durand dan Barlow, 2003). Secara individual, munculnya perilaku waria tidak lepas dari suatu proses atau dorongan yang kuat bahwa fisik mereka tidak sesuai dengan kondisi psikis. Hal itu menimbulkan konflik psikologis dalam dirinya. Waria mempresentasikan perilaku yang jauh berbeda dari laki-laki normal, tapi bukan sebagai wanita yang normal pula. Masalah yang dihadapi waria tidak hanya menyangkut moral dan perilaku yang dianggap tidak wajar tapi juga dorongan seksual yang sudah menetap dan membutuhkan penyaluran (Kartono, 1989). Masyarakat juga masih menganggap waria dalam satu bingkai kultural yang identik dengan pelacuran, seks bebas, penyakit kotor atau pelaku seksual menyimpang (Koeswinarno, 2004).
Persoalan itu memberi gambaran bahwa waria, baik sebagai individu maupun makhluk sosial berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan dan sarat persoalan. Sebagai pribadi, waria dapat dikatakan terjebak dalam tubuh yang tidak sesuai dengan jiwanya. Sebagai makhluk sosial, kehadirannya tidak sepenuhnya diterima masyarakat. Dan sebagai makhluk religius, dipandang menyalahi kodrat atau ketentuan Tuhan. Dalam konteks masyarakat Indonesia, hal itu menjadi semakin jelas dengan adanya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengenai pengharaman waria. Dalam pandangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), waria adalah pria, namun bertingkah laku dengan sengaja seperti wanita. Segala perilaku waria yang menyimpang adalah haram dan harus diusahakan untuk dikembalikan pada kodratnya.
Pandangan buruk mengenai waria tersebut, menjadi sesuatu yang membingungkan dan tampak kontradiktif, ketika dalam faktanya, sejumlah waria justru menunjukkan perilaku yang sebaliknya. Mereka tampil di masyarakat sebagai individu atau komunitas yang memperhatikan dan mempraktekkan agamanya. Secara personal hal itu sangat berdasar, karena bertuhan atau beragama, tidak hanya dapat dimengerti sebagai pilihan, tetapi juga bersifat bawaan atau naluriah.
Ramachandran (dalam Pasiak, 2002) menjelaskan bahwa terdapat lokus bagi spiritual atau Tuhan di dalam otak yang kemudian disebut God Spot pada lobus temporal. Melalui suatu pengujian diketahui bahwa terjadi peningkatan aktivitas pada daerah tersebut ketika manusia normal diberi nasehat religius. Atau dengan kata lain, terdapat suatu jalur khusus syaraf yang berhubungan dengan agama dan pengalaman religius. Naluri bertuhan tidak hanya bersifat konseptual normatif, tapi juga teknis-konkret. Manusia tidak hanya diberi software berupa ajaran agama tapi juga hardware, dalam hal ini lobus temporal otak. Dalam perspektif Islam sendiri, kecenderungan untuk beragama merupakan sesuatu yang bersifat alamiah, bawaan atau naluri yang telah ditetapkan Tuhan di dalam diri manusia (Muthahhari, 2007; Madjid, 2001; Qardhawi, 1999).
Tidak mudah untuk menjelaskan bagaimana yang suci atau sakral (agama dan aktivitas keagamaan) tampak dapat berjalan beriringan dengan keberadaan yang dianggap kotor (rasa identitas dan perilaku waria). Tidak mudah pula untuk memahami bagaimana seseorang dapat membutuhkan dan terlibat aktif dalam sistem kepercayaan atau agama yang sekaligus menjadi penentang utamanya. Jadi pertanyaan kita adalah: apa makna agama dalam perspektif hidup waria, dan bagaimana mereka memposisikan diri, antara identitas waria di satu sisi dengan pengharaman agama atas waria di sisi yang lain?
Ruang Suci Kaum Waria
Proses panjang penelitian membawa saya pada temuan-temuan yang menarik, dan barangkali mengejutkan. Pertama-tama, agama mengingatkan waria tentang dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Hal itu menunjukkan adanya kesadaran mengenai konsep benar-salah (moral-normatif). Lebih dari sekedar menyadari tentang dosa-dosanya, hal itu juga disertai kehendak untuk memperbaiki diri agar sejalan dengan ajaran agama. Dalam arti yang lebih luas, nilai-nilai dan ajaran agama juga memberi suatu pedoman atau dasar pertimbangan dalam bertindak. Hal itu membawa waria pada suatu kesadaran untuk tidak secara bebas memperturutkan keinginan atau hawa nafsunya. Di balik hal-hal buruk yang mungkin diperbuat, terdapat agama yang sangat ingin dipatuhinya.
Selain mengingatkan tentang dosa dan sebagai dasar pertimbangan dalam bertindak, agama juga menyadarkan mereka tentang fakta kematian. Dalam hal ini, agama memberi semacam kesiapan dan bekal, tidak hanya untuk menghadapi kematian tapi juga kehidupan setelah mati. Disini, kematian benar-benar dipahami sebagai awal dan bukan akhir dari segalanya. Agama juga dapat memberi arti dan ketentraman bagi diri dan kehidupan mereka. Dalam hal ini, kedekatan dengan agama memberi keluasan perspektif, ruang yang bersifat meditatif, pelepasan, penyerahan, ketundukkan dan mengurangi perasaan besalah. Hal itu memberi arti bagi diri dan kehidupan, menimbulkan perasaan tentram dan rasa syukur yang mendalam.
Mereka juga tidak sekedar mempercayai sepenuhnya tentang keberadaan Tuhan, tapi juga melakukan bentuk-bentuk penyembahan, kepatuhan, dan ketundukkan, seperti shalat dan dzikir (mengingat Allah). Lebih dalam dari sekedar percaya dan mengekspresikannya, mereka juga merasakan bahwa Tuhan benar-benar ada dan hadir dalam kehidupan mereka. Ketiga hal itu, yakni percaya kepada Tuhan, mewujudkan kepercayaan dan merasakan keberadaan Tuhan, terutama muncul pada masa-masa sulit. Ada suatu harapan mendapat petunjuk, jalan keluar dari suatu masalah di luar jangkauan rasionalitasnya. Saat tidak seorangpun dapat menolong atau bahkan mencibir, mereka merasa masih memiliki tempat untuk mengadu, dalam shalat dan juga dzikir yang dapat mengurangi dan bahkan menghilangkan beban hidupnya. Dalam hal ini, keyakinan kepada Tuhan, benar-benar mendiami dan memainkan peran dalam ranah batin-psikologis mereka.
Pada dasarnya mereka mengakui, menyadari benar bahwa identitasnya tidak dapat dibenarkan dalam agama, namun menyangkut pengharaman tidak selalu dapat diterima. Ada diantara mereka yang setuju, dan ada pula yang menolak pengharaman waria. Namun, ketidaksetujuan mereka lebih merupakan reaksi terhadap ulama yang dianggap mengadili, memaksa dan tidak memahami, ketimbang persoalan substansi dari fatwa itu sendiri. Pada prinsipnya, waria mengakui identitasnya tidak dapat dibenarkan, tapi untuk menjadi seorang laki-laki adalah perintah yang tidak dapat dipenuhi. Dalam hal ini, disatu sisi mereka tetap menjalani hidup sebagai seorang waria, dengan penampilan, rasa identitas, dan orientasi seksnya, dan di sisi lain tetap menjalankan agamanya, seperti pengajian, dzikir, ataupun shalat, dalam konteks dirinya sebagai laki-laki.
Sejauh ini, mereka merasa cukup nyaman mengambil posisi itu dan sebagaimana yang tampak dalam keseharian mereka, hal itu dapat berjalan secara beriringan. Mereka menjalankan ibadah sebagai seorang laki-laki, dan menjalani hari-harinya sebagai waria. Hal itu menunjukkan bahwa keberagamaan adalah satu hal, dan identitas waria adalah hal lain, yang meskipun keduanya bersinggungan, tetapi yang satu (identitas waria) tidak dapat menghilangkan yang lain (insting religius). Artinya, dalam konteks diri dan kehidupan mereka, hal itu dapat berjalan secara beriringan. Atau dengan kata lain, keduanya (waria dan insting religius) dapat berdiri sendiri, sebagai suatu dorongan yang sama-sama membutuhkan penyaluruan.
Sehubungan dengan persoalan itu, ada dua hal dalam diri mereka yang dapat dibedakan, yakni sebagai waria dan sebagai makhluk religius. Sebagai seorang waria mereka berpotensi untuk melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan norma agama atau etika yang berlaku umum di masyarakat. Hal itu terkait dengan persoalan rasa identitas mereka yang bersifat menetap dan butuh penyaluran, baik dari segi penampilan, perilaku dan orientasi seks. Sebaliknya, sebagai makhluk religius, mereka memiliki potensi untuk melakukan banyak hal, sejalan dengan tata nilai, norma, atau etika keagamaan. Hal itu terkait dengan religious instink, yaitu naluri untuk meyakini dan mengadakan penyembahan kapada suatu Kekuatan di luar dirinya (Tuhan). Naluri tersebut mendorong mereka untuk melakukan aktivitas-aktivitas religius. Waria dan insting religius, sekali lagi, dapat berjalan secara beriringan, sebagai suatu dorongan yang masing-masing membutuhkan penyaluran.
Dari sinilah menjadi mudah untuk dimengerti, bila mereka dapat menjadi seorang waria sekaligus individu yang memperhatikan dan mempraktekkan agamanya. Tidak mengherankan bila terdapat seorang waria yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi, sangat memperhatikan ibadahnya atau menjalankan ibadah haji. Inti dari semua ini adalah bahwa kecil kemungkinannya bagi mereka untuk dapat menjalani hidup sebagaimana laki-laki pada umunya, namun hal itu tidak menghentikan atau menjadi suatu penghambat bagi mereka untuk mendekat dan mengakrabkan diri dengan kehidupan keagamaan.
Adapun masalah rasa identitas sebagai waria di satu sisi, dan pengharaman agama atas identitas waria di sisi yang lain, mereka memiliki jalan keluarnya sendiri, yaitu tetap menjalani hidup sebagai seorang waria dan menyerahkan nasib identitasnya kepada Tuhan. Rasa identitas waria sudah mengakar dalam diri mereka, dan sangat sulit dan bahkan tidak dapat dilepaskan. Desakan keluarga, masyarakat dan ulama dengan fatwanya, sejauh ini tidak dapat membuat mereka kembali pada rasa identitas jenis kelamin yang dianggap sebagai kodratnya, yakni seorang laki-laki. Pun demikian, menjadi seorang waria tidak menghilangkan atau menghalangi naluri religius dalam diri mereka untuk tumbuh dalam berbagai dimensinya. Inilah yang mendasari, mengapa mereka dapat tetap menjadi seorang waria disatu sisi, dan menjalankan agamanya disisi yang lain.
Sebagai suatu keputusan duniawi, menjadi waria sekaligus menjalankan agamanya itu dipandang mencukupi, tapi sebagai keputusan akhir, mereka memandang perlu untuk kembali mengambil sikap yang lebih jelas dan tegas. Pada saat meninggal dunia, mereka ingin diperlakukan, dikuburkan, dan menghadap Tuhan sebagai seorang laki-laki. Akhirnya, kepada agama atau Tuhan yang paling personal, mereka menyerahkan keseluruhan diri dan kehidupannya, termasuk melepas rasa identitasnya sebagai seorang waria. Kesimpulan dari semua ini adalah bahwa sejauh apapun waria dalam penelitian ini masuk dalam dunia atau kultur waria yang terlarang, mereka tetap memandang bahwa agama bermakna atau mengandung arti penting bagi kehidupan mereka. Lebih dari sekedar menanggap penting, mereka juga mempraktekkannya, menghayatinya.
Dan Beginilah Sebaiknya Kita Bersikap
Agama telah disuguhkan dalam kehidupan waria sebagai musuh, dan dalam batas-batas tertentu waria menentangnya. Namun, pada sisi yang paling personal, waria tetap menjadikan agama sebagai pedoman, dasar pertimbangan dan menjadikannya sebagai tempat untuk kembali. Akhirnya, sebagai pribadi, seorang waria tentu memiliki sisi positif yang tidak sekedar pantas, tapi juga harus dipandang secara obyektif, diakui dan dihargai sebagaimana penghargaan terhadap manusia pada umumnya.
Dalam pandangan saya, bila identitas gender atau seksualitas waria selalu dijadikan tolok ukur untuk membangun persepsi bahwa waria pada dasarnya menyimpang, dosa dan akan tetap dalam kondisi demikian, maka menjadi penting untuk direnungkan bahwa secara tanpa sadar, individu, kelompok atau masyarakat telah tidak memberi kesempatan kepada waria untuk menggali hal-hal terbaik dalam diri dan kehidupan mereka. Dalam hal ini, masyarakat justru terlibat dalam suatu keburukan yang ditentangnya sendiri, yaitu melalui pencitraan buruk terhadap waria. Setiap individu dalam masyarakat, hendaknya dapat lebih memahami realitas dan tidak hanya sekedar mendasarkan pada persepsi yang belum tentu sejalan dengan kenyataan. Bila jarak antara persepsi dan realitas terlalu lebar, tidak berkesinambungan atau bahkan terputus, maka waria akan tereduksi, dari seorang pribadi menjadi hanya sekedar persoalan jenis kelamin dan seksualitas. Dan hal itu sungguh bertentangan dengan konsepsi agama dan ilmu pengetahuan.
Source
Ruang Suci Bagi Kaum Waria
Penjual Mainan Era Kolonial
Masa anak-anak memang merupakan masa bermain. Masa dimana aktivitas mereka dihabiskan untuk mengenal dan mencoba sesuatu yang baru. Dan tentunya sesuatu yang menarik pula menurut mereka.
Permainan mereka tidak hanya yang berkaitan dengan permainan yang berhubungan dengan sosialisasi tetapi juga yang bersifat pribadi. Untuk yang bersifat pribadi maka untuk masa sekarang maka kita akan melihat begitu banyak bentuk dan ragam mainan bagi anak-anak. Masyarakat yang menjual berbagai pernak-pernik mainan pun berlimpah apalagi di tempat-tempat wisata, dari mainan mobil-mobilan, boneka, balon, bola dan beranekaragam lainnya baik yang terbuat dari kayu, plastik maupun logam tersedia.
Penjual Mainan Anak di Jawa 1910 (Koleksi: www.kitlv.nl)
Penjual mainan anak tersebut terkadang juga berkeliling dari kampung ke kampung menjajakan dagangannya kepada anak-anak. Biasanya mereka menggunakan pikulan dari bambu untuk menaruh mainan-mainan tersebut. Anak-anak yang tertarik biasanya akan merengek-rengek kepada orangtuanya, meminta untuk dibelikan walaupun terkadang orangtua tidak menyanggupinya. Penjual mainan anak juga sering mempermainkan emosi anak yang orang tuanya enggan membelikan mainan dengan cukup lama berhenti di depan rumah mereka. bagi orangtua terkadang hal ini menjengkelkan tetapi itulah jiwa dagang penjual mainan ini, dengan cara ini maka dengan terpaksa orang tua akan membelikan mainan untuk anaknya. Maka rejeki pun di dapat…
Penjual mainan anak yang berkeliling dari kampung ke kampung rupanya telah ada sejak jaman kolonial dahulu. Peralatan dan cara berjualannya hingga saat ini masih terlihat di kampung-kampung. Bila kita perhatikan mainan yang dijajakan dalam foto di atas yang diterbitkan oleh KITLV dapat kita lihat beragam mainan dari bola berwarna-warni, boneka, berbagai mainan yang digantung dengan tali seperti burung-burungan, mainan bunyi-bunyian dan lain sebagainya. Terlihat juga di belakang penjual mainan tersebut anak-anak mengikuti untuk melihat mainan yang dijual.
Rupanya kita tidak menduga bahwa pada masa lalu telah ada penjual mainan anak seperti yang terlihat pada saat ini, berkeliling kampung ke kampung dengan pikulan, menarik hati anak-anak yang melihatnya. Dan terkadang membuat orangtua menjadi sedikit jengkel…..:)
Penjual mainan anak yang berkeliling dari kampung ke kampung rupanya telah ada sejak jaman kolonial dahulu. Peralatan dan cara berjualannya hingga saat ini masih terlihat di kampung-kampung. Bila kita perhatikan mainan yang dijajakan dalam foto di atas yang diterbitkan oleh KITLV dapat kita lihat beragam mainan dari bola berwarna-warni, boneka, berbagai mainan yang digantung dengan tali seperti burung-burungan, mainan bunyi-bunyian dan lain sebagainya. Terlihat juga di belakang penjual mainan tersebut anak-anak mengikuti untuk melihat mainan yang dijual.
Rupanya kita tidak menduga bahwa pada masa lalu telah ada penjual mainan anak seperti yang terlihat pada saat ini, berkeliling kampung ke kampung dengan pikulan, menarik hati anak-anak yang melihatnya. Dan terkadang membuat orangtua menjadi sedikit jengkel…..:)
Penjual Mainan Era Kolonial
Menu Ekstrim Indomie Pedes Mampus
Buat yang doyan sama makanan pedas, monggo cobain Warung Indomie Abang Adek.
Warungnya sederhana banget, lokasinya di Jalan Mandala Utara Tomang.
Patokan gampangnya setelah Roxy Square, ada gang belok kiri masuk, trus pertigaan belok kanan dan mentok ajah ? Naaah ? letaknya pas di jalanan tusuk sate.
Tempatnya bole dikata rame banget cukup buat 50 orang kalo lagi peak. Cocok buat yang nyari makan sambil nyari jodoh wahaha.
Menu yang santer dan agak bikin bulu kuduk merinding adalah:
1. Indomie Pedes Garuk – 25 bijik cabek rawit ulek
2. Indomie Pedes Gilak – 50 bijik cabek rawit ulek
3. Indomie Pedes Mampus – 100 bijik cabek rawit ulek
Oh yah, Kalo mau ditambah topping, always tersedia telor mata sapi goreng juga ada kornet gorengnya.
Minuman favoritnya juz buah. But I am gonna suggest cobain Lemon Squashnya manteb banget deh, seger asli banget! hehe
Warung yang dimotori oleh pak Tono sejak 1995 ini buka setiap hari nonstop dari jam 4 sore sampai jam 3 pagi. Cuman, kalo hari Sabtu kadang cuman sampe jam 2 ajah kalo lagi rame.
Selain murah dan juga meriaah, di mana lagi bisa makan indomie seunik ini?
You should try 'm up!
Warungnya sederhana banget, lokasinya di Jalan Mandala Utara Tomang.
Patokan gampangnya setelah Roxy Square, ada gang belok kiri masuk, trus pertigaan belok kanan dan mentok ajah ? Naaah ? letaknya pas di jalanan tusuk sate.
Tempatnya bole dikata rame banget cukup buat 50 orang kalo lagi peak. Cocok buat yang nyari makan sambil nyari jodoh wahaha.
Menu yang santer dan agak bikin bulu kuduk merinding adalah:
1. Indomie Pedes Garuk – 25 bijik cabek rawit ulek
2. Indomie Pedes Gilak – 50 bijik cabek rawit ulek
3. Indomie Pedes Mampus – 100 bijik cabek rawit ulek
Oh yah, Kalo mau ditambah topping, always tersedia telor mata sapi goreng juga ada kornet gorengnya.
Minuman favoritnya juz buah. But I am gonna suggest cobain Lemon Squashnya manteb banget deh, seger asli banget! hehe
Warung yang dimotori oleh pak Tono sejak 1995 ini buka setiap hari nonstop dari jam 4 sore sampai jam 3 pagi. Cuman, kalo hari Sabtu kadang cuman sampe jam 2 ajah kalo lagi rame.
Selain murah dan juga meriaah, di mana lagi bisa makan indomie seunik ini?
You should try 'm up!
charlie@balimetamorph.com
Menu Ekstrim Indomie Pedes Mampus
Suara Azan Bercampur Ave Maria
MARYAM. MARY. MARIA. Atau Siti Maryam, bangsa Arab menyapanya. Siti adalah awalan nama untuk menghormati dan menyayangi. Orang Maroko menyebutnya Sidi. Kita mengejanya Siti.
Maryam atau Maria atau Mary adalah orang yang sama. Dia adalah seorang perempuan mulia. Paling mulia. Umat kristen memujanya dengan penuh penghormatan. Umat islam menghormati dengan penuh kesucian.
Maryam atau Maria adalah tokoh yang menyatukan dua agama besar dunia. Kristen dan Islam bisa bersatu bila menyebut nama Maria. Mereka sepaham, sepercaya, sependapat tentang Maria. Tanpa ada perbedaan dan perselisihan pada pernik perbedaan.
Banyak umat Kristen tak mengetahui betapa kaum muslim mensucikan Maria.
Banyak umat Islam tak sadar mereka menghormati sosok Maria. Dari tiga agama sama atau agama Ibrahim, hanya Yahudi yang mencelanya. Mereka menganggap Maria penuh cela bagai perempuan zinah.
Ajaran Islam menghormati Maria untuk nama sebuah surat dalam kitab sucinya.
Dari 114 surat dalam Quran, ada Surat Yunus (Jonah), Yusuf (Joseph), Hud (Hud)
Ada Surat Ibrahim (Abraham), Luqman, Rum (Romawi) dan Surat Muhammad
Tapi ada satu-satunya surat dengan nama wanita dalam Quran, Surat Maryam.
Maryam atau Maria atau Mary adalah orang yang sama. Dia adalah seorang perempuan mulia. Paling mulia. Umat kristen memujanya dengan penuh penghormatan. Umat islam menghormati dengan penuh kesucian.
Maryam atau Maria adalah tokoh yang menyatukan dua agama besar dunia. Kristen dan Islam bisa bersatu bila menyebut nama Maria. Mereka sepaham, sepercaya, sependapat tentang Maria. Tanpa ada perbedaan dan perselisihan pada pernik perbedaan.
Banyak umat Kristen tak mengetahui betapa kaum muslim mensucikan Maria.
Banyak umat Islam tak sadar mereka menghormati sosok Maria. Dari tiga agama sama atau agama Ibrahim, hanya Yahudi yang mencelanya. Mereka menganggap Maria penuh cela bagai perempuan zinah.
Ajaran Islam menghormati Maria untuk nama sebuah surat dalam kitab sucinya.
Dari 114 surat dalam Quran, ada Surat Yunus (Jonah), Yusuf (Joseph), Hud (Hud)
Ada Surat Ibrahim (Abraham), Luqman, Rum (Romawi) dan Surat Muhammad
Tapi ada satu-satunya surat dengan nama wanita dalam Quran, Surat Maryam.
Dalam Islam, Maryam diabadikan penuh kesucian dalam kitab suci mereka.
Tak ada kitab atau bab bernama Maria dalam kitab suci manapun adanya.
Banyak kalangan menyebut Islam “lebih kristiani dari umat Kristen” soal Maria.
Ini tidak untuk merendahkan keyakinan non-Islam tentang Maria.
Maria adalah perempuan pilihan dan suci, surat 3 ayat 42
Maria adalah perempuan terpercaya, surat 5 ayat 57
Maria adalah perempuan diatas segala-galanya, sejagat se semesta.
Maria simbol kesucian dalam Islam dan juga Kristen.
Di Libanon, Maria dihormati penuh khidmat oleh umat Kristen dan Islam. Inilah negeri tempat 19 agama dan alirannya hidup bersama. Kadang mereka berseteru, berkelahi, berperang dan saling membunuh. Tapi bukan soal kepercayaan atau keimananan, tapi urusan dunia belaka.
Di negeri Liban ini, banyak bangsa Arab hidup yang tak mengikuti ajaran Muhammad.
Namun mereka tak pernah mencela, menghina Islam apalagi Muhammad. Dari antropologis, bagaimanapun Muhammad adalah orang Arab. Bangsa Liban yang Arab mustahil menghina orang yang memuliakan ras Arab di dunia.
Negeri itu mulai tahun ini, setiap 25 Maret merayakan hari suci keagamaan bersama.
Hari ketika Malaikat Jibril membisikan kepada Maria bahwa dia akan mengandung.
Mengandung bayi yang kelak bernama Isa al Masih atau Jesus Kristus. Sebuah kelahiran tanpa ayah sebuah tanda kebesaran Tuhan.
Umat Islam wajib mempercayai kelahiran suci itu, ‘virgin birth’. Sebuah keimanan yang sama dengan iman dan nurani kristiani. Orang Libanon menyatukannya dengan sebuah perayaan bersama. Mereka melantunkan suara azan bersama alunan lagu Ave Maria.
Perayaan ini bukan mencampurkan keyakinan dan keimanan. Ini adalah bentuk kesamaan dan titik temu sebuah keimanan. Dan titik temu ada pada sosok Maryam, Mary atau Maria. Mereka merenung, bergembira, bersuka cita untuk sebuah kesamaan.
Tak ada kitab atau bab bernama Maria dalam kitab suci manapun adanya.
Banyak kalangan menyebut Islam “lebih kristiani dari umat Kristen” soal Maria.
Ini tidak untuk merendahkan keyakinan non-Islam tentang Maria.
Maria adalah perempuan pilihan dan suci, surat 3 ayat 42
Maria adalah perempuan terpercaya, surat 5 ayat 57
Maria adalah perempuan diatas segala-galanya, sejagat se semesta.
Maria simbol kesucian dalam Islam dan juga Kristen.
Di Libanon, Maria dihormati penuh khidmat oleh umat Kristen dan Islam. Inilah negeri tempat 19 agama dan alirannya hidup bersama. Kadang mereka berseteru, berkelahi, berperang dan saling membunuh. Tapi bukan soal kepercayaan atau keimananan, tapi urusan dunia belaka.
Di negeri Liban ini, banyak bangsa Arab hidup yang tak mengikuti ajaran Muhammad.
Namun mereka tak pernah mencela, menghina Islam apalagi Muhammad. Dari antropologis, bagaimanapun Muhammad adalah orang Arab. Bangsa Liban yang Arab mustahil menghina orang yang memuliakan ras Arab di dunia.
Negeri itu mulai tahun ini, setiap 25 Maret merayakan hari suci keagamaan bersama.
Hari ketika Malaikat Jibril membisikan kepada Maria bahwa dia akan mengandung.
Mengandung bayi yang kelak bernama Isa al Masih atau Jesus Kristus. Sebuah kelahiran tanpa ayah sebuah tanda kebesaran Tuhan.
Umat Islam wajib mempercayai kelahiran suci itu, ‘virgin birth’. Sebuah keimanan yang sama dengan iman dan nurani kristiani. Orang Libanon menyatukannya dengan sebuah perayaan bersama. Mereka melantunkan suara azan bersama alunan lagu Ave Maria.
Perayaan ini bukan mencampurkan keyakinan dan keimanan. Ini adalah bentuk kesamaan dan titik temu sebuah keimanan. Dan titik temu ada pada sosok Maryam, Mary atau Maria. Mereka merenung, bergembira, bersuka cita untuk sebuah kesamaan.
Foto koleksi pribadi Penulis, gereja yang berdampingan side-by-side dengan masjid, di satu daerah di Tanjung Priok
Seharusnya perayaan ini juga dirayakan di Indonesia. Sebuah negeri yang sebangun seperti Libanon. Negeri yang hidup dan kaya dari perbedaan Tapi miskin dalam menggali persamaan.
Maryam adalah sosok suci dan mulia bagi umat Islam.
Maria adalah Mater Dei bagi umat Kristen.
Selayaknya mereka bersatu dalam banyak perbedaan. Karena hidup sangat indah dengan perbedaan dan persamaan.
Syair “Ave Maria”
Ave Maria
Gratia plena
Maria
Gratia planea
Ave ave dominum
Dominus tecum
Benedicta tu in mulieribus
Et benedictus fructus ventris
Tui, Jesus
Sancta Maria
Mater Dei
Ora pro nobis peccatoribus
Nunc et in hora mortis nostrae
Amen
Lafal Azan
Allah Maha Besar الله اكبر
Allah Maha Besar الله أكبر
Saya bersaksi tak ada tuhan selain Allah أشهد ان لا اله الا الله
Saya bersaksi Muhammad adalah utusanNya وأشهد أن محمدا رسول الله
Marilah Kita Sholat حي على الصلات
Marilah Kita Sholat حي على الصلات
Marilah raih kebahagiaan حي على الفلاح
Marilah raih kebahagiaan حي على الفلاح
Allah Maha Besar الله اكبر
Allah Maha Besar لله اكبر
Tidak ada tuhan selain Allah لا اله الا الله
Source
Suara Azan Bercampur Ave Maria
Ave Maria
Gratia plena
Maria
Gratia planea
Ave ave dominum
Dominus tecum
Benedicta tu in mulieribus
Et benedictus fructus ventris
Tui, Jesus
Sancta Maria
Mater Dei
Ora pro nobis peccatoribus
Nunc et in hora mortis nostrae
Amen
Lafal Azan
Allah Maha Besar الله اكبر
Allah Maha Besar الله أكبر
Saya bersaksi tak ada tuhan selain Allah أشهد ان لا اله الا الله
Saya bersaksi Muhammad adalah utusanNya وأشهد أن محمدا رسول الله
Marilah Kita Sholat حي على الصلات
Marilah Kita Sholat حي على الصلات
Marilah raih kebahagiaan حي على الفلاح
Marilah raih kebahagiaan حي على الفلاح
Allah Maha Besar الله اكبر
Allah Maha Besar لله اكبر
Tidak ada tuhan selain Allah لا اله الا الله
Source
Suara Azan Bercampur Ave Maria































