Makanan Jalanan Tiga Negara

Artikel ini saya tujukan buat seorang sahabat yang suka banget incip-incip makanan. Kebetulan kawan ini baru berulang tahun . Ketika saya sedang jalan, banyak SMS-nya yang berisi pertanyaan semisal ‘sudah makan belum, makan apa, dll. Mungkin dia tidak tahu kalau saya amat sangat rakus selama berjalan.

Selama jalan, setiap hari saya habiskan dengan berjalan kaki antara 15-20 km. Kalau tidak sedang berjalan kaki, ya duduk di atas kereta api antara 6-24 jam. Risiko berjalan murah meriah, perut pun jadi cepat lapar.

Dalam perjalanan, saya usahakan memilih makanan kaki lima dengan menu vegetarian. Kalau terpaksa mendaging, saya pilih ikan. Saya merasa lebih sehat paska vegetarian. Stamina meningkat dan nyaris tak pernah sakit. Dua bulan berjalan, satu-satunya sakit parah hanya telapak kaki yang berair karena memakai sandal gunung baru di awal jalan.

Selama di Penang, saya selalu menyantap laksa. Laksa paling sedap ala saya berada du depan kuil Kek Lok Si. Harganya 4 ringgit, ditemani es tebu yang 2 ringgit, rasanya nyam nyam.
Di Nibong Tebal, kawan saya Reddie banyak memperkenalkan makanan ala India. Selain roti canai yang hanya 0,80 ringgit, ada roti telur seharga 1,20 ringgit dan nan 2,0 ringgit. Sekali-sekali coba makan nan keju. Rasanya wow. Bumbu nan yang ahoy adalah tumbukan daun mint warna hijau. Nyegrak. Minumannya jelas tea ais alias teh tarik pakai es yang harganya 1,5 ringgit saja.
Sekali Reddie mengajak saya mengunjungi Fire Walking Ceremony, festival yang hanya diadakan sekali setahun di tiga kuil dekat Nibong Tebal. Kami pun dapat makan gratis dengan menu yang juga ‘vegetarian’. Nasi dihidangkan di atas daun pisang. Lauknya ada sayur labu, ubi jalar, sayur kacang. Minumannya es sirop atau bubur kacang hijau. Rasanya.. hmmm, manis!
*****

Di Songkhla, wilayah bagian Thailand Selatan yang dulu kental Islamnya sebelum disulap menjadi kota Buddha, saya hanya bisa menemukan mie rebus masam yang sedap. Harga per-mangkoknya antara 20-25 bath. Tapi kopi Songkhla patut dicoba. Biar hanya secangkir kecil, rasanya maknyus. Harga per-cangkir sekitar 20 bath. Kalau mau kopi murah, masuk saja 7-11, segelas plastik besar 15 bath plus gratis es.

Di Stasiun Hualamphong, Bangkok, kali pertama saya berkenalan dengan ‘asinan’ Thailand. Lupa saya tanyakan nama aslinya. Yang jelas, berbumbu masam dan puedas, diikuti irisan kubis, ketimun, dan kacang mentah. Oya, ada semacam seafood di situ. Satu mangkok harganya 35 bath. Begitu masamnya, hingga hanya kubis, mentimun, dan kacang saja yang bisa saya telan. Kapok! Toh saya sudah mencicipi makanan lokal.
Sampai di Ayutthaya, saya mirip kena sihir. Kota lamanya penuh reruntuhan candi. Sejauh mata memandang hanya candi-candi tua yang gemerlap keemasan saat ditimpa cahaya. Berlomba saya dengan para monk (bhiksu) menjemput matahari di pagi hari. Saya menuju reruntuhan candi, bhiksu-bhiksu menuju pasar, mengumpulkan sedekah. Sekali saya ikuti bhiksu ke pasar. Ternyata jajanan ala pasar, wow.. banyak yang vegie. Makanan termahal adalah nasi goreng seafood, 50 bath harganya. Melimpah benar porsinya, bisa buat dua kali makan. Tapi di Ayutthaya susah dapat nasi, adanya ketan. Di siang hari, es sirop merah seharga 10 bath jadi penawar dahaga dan terik udara.
Beruntung saya tinggal dalam sebuah keluarga di Desa Pang Term, utara Chiang Mai. Setiap hari saya disuguhi menu rumahan. Nasi ketan, sayur dan aneka hidangan yang kental aroma khalenka. Khalenka itu semacam empon2, bentuknya putih, baunya antara lengkuas, jahe, dan entahlah. Abon ikan tuna yang saya bawa pun disulap Pinan Tea, ibu keluarga, menjadi makanan sedap beraroma khalenka.
Pinan Tea sempat membuat penganan mirip bakwan. Bahannya ketela oranye yang diiris tipis-tipis. Bakwan berasa manis. Tapi jangan coba-coba mengambil asinan (atau acar?) buatan dia. Rasanya nano-nano, nggak karuan. Ada masam, pedas, dan entahlah. Shock saya mencobanya, hehe…
Dari Chiang Mai saya menuju Arayaprathet, perbatasan sebelum ke Kamboja. Di sini kental masakan Vietnam di beberapa rumah makan. Saya coba lumpia sayur yang vegetarian dengan bumbu kacang manis pedas. Saya suka, kecuali harganya. Lima lumpia berharga 50 bath. Saus kacangnya terlalu sedikit pula. Padahal, yang bikin marem itu saus kacangnya. Huh..!
*****

Surga bagi pelancong kere macam saya ternyata ada di Siem Reap. Murah harga penginapan (nemu yang 4 dolar sudah termasuk sarapan, dan bukan dormitory), murah pula jajanan pasarnya. Pernah diduduki Prancis membuat orang Siem Reap piawai membuat baguette. Rotinya enak, empuk pula, dan krenyes kalau digigit. Baguette isi sayur dan mayonese hanya 1500 riel sepotong (sebagai gambaran, 1 dolar US saetara dengan 4400 riel). Kawan saya yang bekerja di lembaga bahasa Prancis pun jadi keranjingan baguette.
Ada lagi semacam juadah tapi isi sayuran. Dari ketan kulitnya, dimakan dengan saus kacang manis pedas. Harganya juga 1500 riel sepotong. Mulanya kawan saya agak ‘jijik’. Tapi begitu tahu rasanya, jadi keranjingan. Saya sih makan apa saja. Termasuk membeli telur rebus malam-malam, karena kasihan pedagangnya yang berjalan di rintik hujan. Mulanya heran juga, kok bumbunya banyak sangat. Ada lada, semacam daun kemangi, dan lainnya. Ternyata itu orok bebek. Enak juga sih, meski serasa jadi kanibal. Hihi…
Makanan termahal di Siem Reap justru di restoran dalam kompleks Angkor Wat. Sepiring nasi goreng yang porsinya besar (bisa dimakan dua orang), harganya hampir 5 dolar. Sekali-sekali bolehlah, apalagi di saat perut melilit. Selain nasi goreng, sayur campur aduknya enak juga. Entah apa yang jadi bahannya, tapi rasanya.. amboi!
Central Market di Pnom Penh pun menyediakan makanan murah meriah. Mulai mie goreng vegie, rebusan seafood yang luar biasa pedasnya (saya incipi kuahnya saja, kata tabib saya, sementara hindari seafood), dan jajanan mirip nagasari yang di atasnya disiram saus ala santan. Mengenyangkan. Seporsi 3000 riel. Tapi baguette jalanan Pnom Penh tak sesedap baguette di Siem Reap.
*****

Di Yala yang terik dan dipenuhi serdadu Thailand itu, saya menemukan bakso ikan. Kota yang kerap dilanda bom ini ternyata kaya akan makanan enak. Rumah makan Cina dan muslim berkelompok sepanjang lorong kota. Bakso ikan ini dicampur taoge, tofu, dan mie kuning. Seporsinya 35 bath. Sayang saya tak mencicipi dadar telur isi nasi goreng. Perut terlanjur penuh.
*****

Masuk kembali ke Malaysia via Sungai Kolok-Rantau Panjang, mata saya langsung nanar memandang krupuk lekor. Kata kawan, apa bedanya lekor dengan amplang atau krupuk ikan buatan Indonesia. Saya jawab, lekor khas. Ya bentuknya, ya harganya yang merakyat. Dijual ala pisang goreng, pula. Lima ekor lekor seharga seringgit plus saus ala empek-empek itu. Mana ada yang begini di Indonesia? Hehe.. (kecuali mungkin krupuk upil plus sambel petis).

Di Port Dickson, kota pelabuhan yang masuk wilayah Negeri Sembilan, saya jumpai penjual rojak pinggir jalan. Yang dimaksud rojak di sini mirip gado-gado kuahnya. Hanya, isinya mentimun yang dirajang panjang-panjang, telur ayam rebus, tahu macam batagor, dan mie. Satu porsi harganya antara 3-3,5 ringgit. Gandengan minumnya, es cendol seharga 2 ringgit semangkok.
Ada lagi es campur berujung es krim yang sedap rasanya. Bisa ditemui di manapun, termasuk Melaka, Penang, atau Kuala Lumpur. Lupa namanya. Harga semangkok 3 ringgit.
Wah, masih banyak lagi yang ingin saya ceritakan pasal makanan jalanan (maksud saya makanan yang saya temukan sepanjang perjalanan). Sayangnya, waktu tak banyak. Apakah makan makanan jalanan bikin mencret? Tergantung orangnya. Buat saya yang biasa hidup di pedalaman, tak ada efek sampingannya, kecuali kenyang dan mengantuk. Biasalah, masih mengandung darah Jawa (jalinan wong angin-anginan). Apapun itu, semoga kenyang membaca tulisan ‘nggladrah’ ini.



Makanan Jalanan Tiga Negara
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar